Era kedigjayaan Tembakau Madura berakhir sudah tergantikan Cabe Merah Madura.

“Yo ndos pundi maleh. La wong ben taon (Ya mau bagaimana lagi kalau setiap tahun-red) petani makannya dari tabungan alias Mantab!,”

 

SUARAPETANI.COM, PAMEKASAN. Namanya sederhana saja, seperti galibnya pemuda desa: Tulus Hidayat (37). Lahir di Desa Taraban Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, Madura.

Pemuda tani yang sejak belia sudah hapal tanam tembakau secara turun temurun itu, kini terpaksa pindah haluan. Apa pasal?

“Tanam bako (tembakau-red) semakin tahun semakin mantab saja pak,” jawabnya kesal. Loh kok aneh sampeyan iki mas Tulus? Harga tembakau mantab kok malah pindah komoditi? Tanya SuaraPetani.Com sambil garuk-garuk kepala. (Maklum Madura jadi harus sedikit cerdas untuk mendapatkan makna tersirat-red)

 

Penanaman cabe merah oleh petani di Taraban Larangan Pamekasan Madura
Penanaman cabe merah oleh petani di Taraban Larangan Pamekasan Madura

“Yo ndos pundi maleh. La wong ben taon (Ya mau bagaimana lagi kalau setiap tahun-red) petani makannya dari tabungan alias Mantab!,” ujarnya gamblang dengan logat Maduranya yang khas.

“Walah! Makan tabungan toh!,” kejar SuaraPetani.com lagi sambil manggut-manggut.

Tembakau Madura citarasanya memang mendunia. Bagi perokok sejati, tentu mahfum, ada kalimat sakti di belakang bungkus rokok Dji Sam Soe yang tertulis ‘Rokok ini memakai tembakau berkwalitas tinggi dengan tembakau Madura yang manis baunya..”

Hmm.. tetapi, kalimat sakti itu kini tinggal torehan luka. Harga tembakau yang terus menerus turun, permainan tengkulak dan iklim yang basah yang membuat harga panen dibayar murah membuat petani tembakau kapok.

NgajiTani. Kongkow tani khas jawa timuran
NgajiTani. Kongkow Tani khas Jawa Timuran

Sejak dua tahun lalu, Tulus tak lagi tanam tembakau. Ia memilih bertanam cabe. “Awalnya cercaan yang menjadi langganan Tulus di desanya, karena memang desanya dikenal basis perkebunan tembakau.

Kini, pedasnya harga cabe telah membinarkan mata petani tembakau yang lain. Mengapa? Omset cabenya tergolong besar dan stabil. “Tiap minggu saya rutin panen cabe merah besar tiap hari senin dan hari jumat rata-rata 3 ton utk memenuhi kebutuhan pasar induk terbesar di Surabaya,” jelasnya.

NgajiTani menjadi sharing antarpetani di dalam melihat tren pasar yang harus segera diantisipasi petani sebelum Ia menentukan komoditas yang ditanam
NgajiTani menjadi sharing antarpetani di dalam melihat tren pasar yang harus segera diantisipasi petani sebelum Ia menentukan komoditas yang ditanam

Bahkan, saat ini Ia telah berhasil menghimpun mitra taninya sebanyak 70 orang (setara 15 ha) tersebar di beberapa tempat, serta dg pola tanam yg sdh diatur, sehingga bisa dipastikan kapan saja Ia akan panen untuk memenuhi permintaan pasar.

Hasil panen per hektar panen cabe merah besar minimal mencapai 5 ton. Baginya, bertani cabe merah besar laksana seni. Meski budidayanya agak rumit, pelik dan pasarnya sensitif tetapi Ia sangat menyukainya.

“Kita bisa prediksi harga sendiri berdasarkan musim, tidak lagi seperti saat bertanam tembakau yang tergantung dengan industri rokok yang belinya seenaknya mereka sendiri,” pungkasnya.

Saat ini, kita dibantu oleh Abdus Salim (Sekjen Asppehorti Jatim) berusaha untuk buka pasar ke kalangan industri pengolahan pangan agar jumlah produksi dapat kita tingkat tetapi dengan kepastian harga yang telah disepakati.

Dalam kesempatan yang sama, dalam acara NgajiTani di Griya Moringa Pamekasan Madura (NgajiTani adalah istilah kongkow tani dengan para pegiat pertanian Jatim), Abdus Salim membedah eloknya bisnis cabe.

Tren permintaan pasar sudah berubah sesuai kondisi jaman. Petani pun harus pula berubah bertanamnya. Tembakau Madura memang berjaya dijamannya, kini kalah dengan pedasnya cabe merah Madura.
Tren permintaan pasar sudah berubah sesuai kondisi jaman. Petani pun harus pula berubah bertanamnya. Tembakau Madura memang berjaya dijamannya, kini kalah dengan pedasnya cabe merah Madura.

“Jika memang menjadi petani tembakau tidak lagi menguntungkan mengapa harus dipaksakan? Petani harus berani putar haluan. Jangan mau dipengaruhi tengkulak. Makanya kami terus adakan pertemuan dengan petani setiap malam minggu agar mereka mendapatkan sharing informasi sebelum memutuskan,” jelas alumnus Faperta UB tahun 1999 itu.

Tren permintaan pasar sudah berubah sesuai kondisi jaman. Petani pun harus pula berubah bertanamnya. Tembakau Madura memang berjaya dijamannya, kini kalah dengan pedasnya cabe merah Madura.

“Jadi siapa yang ingin rasakan pedasnya cabe Madura?,” tantang Abdus Salim sambil terkekeh.

*) Foto: Abdus Salim / Jurnalis Petani SP