Sekelompok peneliti di Australia sedang mengembangkan temuan baru yang akan memungkinkan tanaman untuk dapat bertahan hidup dari kekeringan hanya dengan alat semprot pembantu tanaman saja. Temuan itu kemungkinan besar akan dapat terwujud dalam beberapa tahun ke depan.

Para peneliti yang berasal dari Universitas Nasional Australia (ANU) itu telah menemukan sebuah enzim pada tanaman yang bertindak sebagai sensor stres. Penemuan itu sebagai bagian dari proyek selama satu dekade yang melibatkan puluhan ilmuwan internasional untuk membuat alat semprot yang melindungi tanaman.

Meskipun tanaman bisa beradaptasi dalam kondisi yang sulit, peneliti utama Kai Xun Chan, mengatakan kerusakan terjadi ketika mereka tak bereaksi cukup cepat. Tim Kai berharap untuk mempercepat mekanisme perlindungan alami tanaman dengan menggunakan semprotan kimia untuk memicu enzim.

“Kami mencoba memanipulasi sifat-sifat sensor ini. Pada dasarnya untuk membuatnya berfungsi lebih memadai selama stres kekeringan,” kata Kai Xun Chan.

Chan juga mengatakan, bahwa penemuan ini bisa membantu para petani yang berjuang dengan mengurangi kerusakan tanaman. “Kekeringan di masa depan diperkirakan menimbulkan biaya sekitar 5,5 miliar dolar per tahun bagi sektor pertanian kami,” ungkapnya.

Dalam kurun waktu dua atau tiga tahun saja proses pengembangan senyawa yang akan digunakan dalam alat semprot yang melindungi tanaman ini bisa berhasil terlaksana.

“Kami mulai upaya untuk mengidentifikasi calon senyawa kimia yang bisa menarget sensor khusus ini yang bisa kami coba dan sempurnakan. Misalnya membuat mereka lebih stabil, lebih mudah diserap oleh tanaman, atau lebih murah untuk diproduksi,” kata Kai Xun Chan.