SUARAPETANI.COM-MALANG: Terobosan terus dilakukan Bank Sampah Malang (BSM), Kota Malang, Jawa Timur. Membuat sampah bernilai ekonomis bisa untuk bayar uang sekolah, iuran BPJS Kesehatan hingga mengembangkan usaha sampingan bagi pemulung.

Selain itu, uang yang tersimpan di buku tabungan dari hasil menjual sampah bisa dibelanjakan bahan pokok, pulsa, membayar rekening listrik, telepon dan PDAM di kantor BSM.

“Jumlah nasabah sekarang meningkat dari 25 ribu menjadi 35 ribu orang,” ungkap Direktur BSM Kartika Ikasari, di Malang, akhir pekan lalu.

Kini volume sampah yang masuk BSM, jelasnya, mencapai 5 ton per hari. Total uangnya bisa mencapai Rp300 juta per bulan dengan keuntungan BSM mencapai Rp50 juta.

Sampah sebanyak itu dari nasabah industri dan perorangan. Sampah domestik dari instansi diantaranya perhotelan, rumah sakit, swasta dan pemerintahan.

Bahkan 256 sekolah dan perguruan tinggi rutin menjual sampah ke BSM. Kini para siswa memiliki tabungan kelas dan tabungan individu. “Berdirinya bank sampah di sekolah-sekolah itu setelah pengurus BSM getol melakukan sosialisasi dan edukasi pentingnya pengelolaan sampah,” ujarnya.

Di SMAN 6 Kota Malang, lanjutnya, tabungan kelas digunakan untuk membiayai kegiatan bersama siswa. Sedangkan tabungan individu untuk membeli buku dan membayar sekolah.

Terobosan BSM lainnya membuka skema kredit, pinjam uang mencicil angsuran dengan sampah. Program sejak 2 tahun terakhir itu diterapkan bagi 50 orang pemulung yang rutin memilah sampah di TPA Supit Urang Malang.

Penyaluran kredit lunak tanpa bunga dibatasi maksimal Rp5 juta per orang diangsur 10 kali dalam 10 pekan.

“Kami meminjamkan uang untuk modal kerja dan usaha sampingan. Mereka kita dorong mengembangkan usaha lain agar sejahtera, tak selamanya jadi pemulung,” tuturnya.

BSM yang mempekerjakan 15 karyawan ini juga akan mengembangkan sampah untuk membayar premi BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan pada 2019.

Sejauh ini pengurus juga getol melakukan outdoor learning, sasarannya anak usia dini. Saban hari, di BSM penuh dengan aktivitas mulai pendidikan, kepelatihan hingga mengangkut dan mengirim sampah.

Sejumlah petugas operasional, yakni Wahyudi, Kusnan dan Herman mendatangi rumah-rumah warga dan perkantoran. Mereka berbekal daftar nama dan nomor telepon nasabah untuk proses mengangkut sampah agar bisa cepat sesuai jadwal.

Penimbangan sampah dilakukan di tempat, ada tanda terimanya, divalidasi petugas dan nasabah. Nota itu tertulis jenis sampah, diantaranya plastik, kertas, logam, botol, kaca dan lainnya.

Transaksi pun ringkas karena harga sudah ada kesepakatan antara nasabah dan pengurus BSM per 1 Januari 2017 sesui harga pasar. Batas penimbangan sebanyak 0,5 kg, harga berlaku saat penimbangan. Jadi seluruhnya transparan.

Nasabah juga dapat keuntungan selisih Rp200 per kg tiap jenis sampah ketika uangnya ditabung.

Setelah aktivitas menimbang sampah di rumah nasabah, petugas di kantor BSM memasukkan uang ke rekening para nasabah. Mereka bisa melihat hasil menjual sampah itu melalui aplikasi BSM mobile, jadi tak perlu repot datang ke kantor BSM.

Setelah sampah sampai di BSM, sejumlah petugas langsung memilahnya. Di lahan seluas 600 meter persegi itu terbagi dalam 20 sekatan termasuk area produksi cacahan lengkap dengan mesin pencacah sampah, area bak warna, area botol, area kulit kabel, paralon, tali pet, termasuk area penimbangan dan pemilahan plastik, logam, botol dan kaca.

“Bisnis pengelolaan sampah itu terus dikembangkan untuk mewujudkan lingkungan lebih baik,” tandasnya.