karawang lubung padi
Foto: ANT

Kabupaten Karawang yang disebut- sebut sebagai kota lumbung padi nasional sejak puluhan tahun lalu agaknya akan kehilangan predikatnya.

Betapa tidak, status sebagai kota penghasil padi terbesar nomor dua setelah Indramayu itu terancam hilang akibat alih fungsi lahan yang terus terjadi setiap tahunnya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Karawang telah berubah menjadi kota industri dengan 1.500 perusahaan mancanegara bertengger di sejumlah kawasan industri yang dibangun Pemkab Karawang.

Sementara itu, Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Peternakan Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menegaskan di daerah itu tidak lagi mungkin dilakukan pencetakan sawah baru, karena ketiadaan lahan.

“Dari tahun ke tahun terjadi alih fungsi lahan pertanian ke bidang lain,” kata Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Peternakan setempat Kadarisman, di Karawang, Minggu (12/6/2016).

Pencetakan sawah baru itu sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah pusat dalam mengantisipasi laju alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian.

Namun, sayangnya tidak semua daerah bisa melakukan pencetakan sawah baru. Karawang diakuinya sebagai salah satu daerah yang tidak memungkinkan melakukan pencetakan sawah baru.

Langkah antisipasi dalam alih fungsi lahan pertanian ke bidang lain, serta upaya intensifikasi sawah yang ada perlu dilakukan.

Intensifikasi sawah dilakukan agar terjadi peningkatan produksi padi. Sehingga, meski terjadi alih fungsi lahan pertanian, tetapi itu tidak berdampak signifikan terhadap penurunan produksi padi.

“Intensifikasi sawah dilakukan dengan melakukan penggunaan teknologi, penguatan modal, dan lain-lain,” kata Kadarsiman.

Padahal, total areal persawahan di Karawang mencapai 98.615 hektare. Puluhan ribu hektare sawah itu hanya dilindungi dengan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dari alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian, yakni dengan memperketat izin alih fungsi lahan.