Tanaman perdu asal India yang bukan saja ampuh mengusir sehat tetapi juga mampu mengatasi masalah kesehatan

Sahdan. Setiap ada berita kerasukan atau orang sakti kebal senjata sampai pada orang yang sulit meninggal karena diduga memiliki ilmu kanuragan, para tabib sampai orang pinter menyarankan untuk mengambil sejumlah daun kelor karena dipercaya kelor adalah tanaman pengusir setan agar kekuatan supranaturalnya lenyap sehingga mudah dilumpuhkan.

Menurut Dewi Sundari Pakar Kejawen dan Fengshui Nusantara dalam situsnya www.dewisundari.com, menyatakan bahwa secara metafisik daun kelor diyakini mampu menjadi penetral magis, sehingga wajar para jawara jaman dahulu keder (gentar-red) jika sampai musuhnya kedapatan memegang daun kelor.

Apapun ceritanya. Predikat daun kelor memang tak lebih dari pelumpuh kesaktian dan pengusir setan yang merasuk tubuh. Apa iya cuman segitu aja manfaat kelor?

Chairman PT Moringa Organik Indonesia. "Kelor terbukti baik untuk supplay gizi dan nutrisi. Saya sarankan tanam kelor bukan beli. Kalau gak punya bijinya, kontak saya saya akan kasih berapa pun banyaknya," ujarnya
Guntur Setiyadi Muhammad Chairman PT Moringa Organik Indonesia. “Kelor terbukti baik untuk supplay gizi dan nutrisi. Saya sarankan tanam kelor bukan beli. Kalau gak punya bijinya, kontak saya saya akan kasih berapa pun banyaknya,” ujarnya

“Ah itu mitos yang dibesar-besarkan Belanda saja mas di jaman kolonial. Kita dibodoh-bodohi agar tidak mengkonsumsi daun kelor yang sangat kaya nutrisi. Makanya dulu ada budaya “tumpes kelor”. Kita biasanya hanya ambil kelor melulu urusan gaib yang jumlahnya pasti tidak banyak. Sementara mereka mengkonsumsinya sebagai good food,” jelas Guntur Setiyadi pegiat Kelor yang produknya mendunia dengan merek Moringa Organik Indonesia.

Di negara empunya kelor yakni India, menurut sejarah, sambung Guntur, rakyat kasta sudra dilarang keras mengkonsumsi. Jika ketahuan akan dihukum cambuk. Karena ini tergolong tanaman dewa yang hanya boleh dinikmati oleh kasta brahmana dan satria.

Bernama latin Moringa Oliefera Lam. Berasal dari India dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Di Jawa dan umumnya Sumatera dikenal dengan kelor. Orang Madura menyebutnya maronggih. Di Aceh dikenal dengan sebutan murong, sementara di sebagian besar pulau Sulawesi mengenalnya dengan sebutan kero, wori, keloro.

Mengkonsumsi kelor setara dengan mengkonsumsi 2 butir telur ayam atau 1 gelas susu atau I ons wortel.

Dalam setiap serbuk daun kelor mengandung 46 antioksidan, 36 anti inflamasi, 18 asam amino lengkap serta multivitamin dan mineral.

Karena kandungan gizinya yang lengkap itulah maka kami gencar mengkampanyekan daun kelor sebagai solusi malnutrisi di daerah rawan pangan.

Hasilnya, alhamdulillah, daerah-daaerah di perbatasan yang tadinya dalam peta berwarna merah karena rawan gizi kini sudah berubaha menjadi hijau warnanya karena daerah itu sudah keluar dari permasalahan gizi buruk.

Jadi… tambah Guntur, sejatinya kelor atau moringa ini menjadi menu wajib harian karena kandungannya yang kaya gizi dan nutrisi. “Silahkan tanam sendiri kalau gak punya. Gak harus beli. Silahkan datang saya akan kasih bijinya gratis!,” janji Guntur.

Kini … si tanaman hijau imut kelor tengah ‘naik daun’. Bukan lagi dikenal sebagai tanaman pengusir setan tetapi sudah menjadi menu kesehatan.

Selamat mencoba (bertanam)..