Hanya 20 persen padi dan jagung yang bisa dipanen. Lamaholot Kembali ke Sorgum

Suarapetani.com, Lamaholot – Lahan di sekitar jalan tanah berbatu menuju Dusun Likotuden di Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tampak begitu kering.

Padi ladang dan jagung yang tumbuh di sela-sela bebatuan di ladang-ladang milik warga dusun mati.

Pemandangan serba kuning dari padi, jagung, semak, pohon yang mengering di sana tampak begitu kontras dengan panorama indah Kota Larantuka di kejauhan yang berlatar belakang Gunung Ile Mandiri yang hijau, Pulau Adonara, dan Pulau Solor yang terpisahkan oleh Selat Flores nan biru.

Secuil ketidaksempurnaan diantara keindahan alam yang dianugerahkan kepada masyarakat Lamaholot, yang hidup dari bagian barat Flores Timur hingga Tanjung Bunga, Adonara, Solor, hingga Lembata.

El Nino panjang yang terjadi sejak 2015 sungguh membuat masyarakat Lamaholot harus hidup lebih keras dari mereka yang hidup di wilayah barat Pulau Flores.

Pergeseran waktu musim hujan dan semakin pendeknya musim hujan, dan semakin sedikitnya curah hujan di sejumlah Kecamatan di Flores Timur dan Lembata menjadi ancaman kekeringan dan rawan pangan di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Flores Timur Anton Sogen mengatakan tiga kecamatan di wilayahnya yakni Ile Boleng, Wotan Ulumado, dan Demon Pagong mengalami gagal panen kali ini akibat kemarau panjang pada musim tanam 2015/2016.

Minimnya curah hujan juga membuat gagal panen di sejumlah desa di Pulau Solor, seperti Desa Balaweling I dan II, Nusadani, dan Daniwato.

Tanaman padi ladang, jagung, dan palawija mati, kering meranggas, takluk oleh teriknya sinar matahari. Itu pula yang terjadi di Dusun Likotuden, dusun yang terletak di sebelah utara gunung berapi kembar Lewotobi.

“Hanya 20 persen padi dan jagung yang bisa kami panen di sini. Tapi dua tahun terakhir ini, tidak panen sama sekali,” kata Kepala Desa Kawalelo Paulus Ike Kola seperti dikutip Antara.

Paulus menyebut perubahan iklim menjadi biang kerok dari kegagalan panen padi, jagung, dan kedelai di lahan milik 62 Kepala Keluarga (KK) di sana.

Penyuluh pertanian dari Kecamatan Luwolema Bernardus Belawa Koten mengatakan daerah di Desa Kawalelo tepatnya di Dusun Likotuden memang dapat dikatakan menjadi lokasi paling kering di Flores Timur. Bahkan menjadi salah satu daerah di NTT yang memiliki curah hujan kurang dari 300 milimeter (mm).

Semakin mendekati Dusun Likotuden pohon-pohon mete atau jambu monyet yang sebelumnya masih terlihat setelah meninggalkan Jalan Raya Larantuka-Maumere sedikit demi sedikit mulai menghilang.

Pohon-pohon asam yang tumbuh besar terlihat secara sporadis hidup di sela-sela tanah berbatu di sana.

Namun ada yang menarik yang bisa dilihat hidup di atas tanah tandus Likotuden, yakni sorgum. Tumbuh bersamaan dengan padi ladang dan jagung yang telah mati kekeringan, sorgum satu-satunya yang tampak hijau diantara tanah di lereng-lereng berbatu.

Sorghum bicolor yang diketahui berasal dari Afrika dan mulai dibudidayakan sekitar seratus tahun lalu di bagian timur Afrika Tengah dan mulai menyebar ke India yang akhirnya masuk ke Indonesia memalui Asia Tenggara ini ternyata tumbuh subur di daerah dengan iklim ekstrim ini.

Hamparan kebun sorgum di kanan dan kiri jalan tanah berbatu dengan latar belakang gunung berapi kembar Lewotobi dan langit biru menandakan keberadaan Dusun Likotuden.

Baru sekitar dua tahun terakhir sorgum tumbuh dengan subur di sana, saat Mama Loretha, sapaan dari seorang penggerak pertanian pangan lokal lahan kering di Flores Timur Maria Loretha, memperkenalkannya pada masyarakat dusun tersebut.

Ini kali kedua petani di Dusun Likotuden panen raya sorgum yang mencapai 100 persen. Para petani tampak begitu gembira dengan hasil yang didapat, perayaan menyambut panen raya pun dilakukan, sorgum ditanak siap disajikan bersama ikan bakar yang ditangkap dengan tangan di teluk dekat dusun dan ayam kampung bakar yang dipelihara dengan pakan sorgum.

Dari lahan seluas 32 hektare (ha) yang ditanami sorgum, tahun ini petani di Dusun Likotuden bisa menghasilkan hingga 90 ton. “Satu hektare lahan bisa menghasilkan tiga hingga empat ton sorgum. Jika lahannya berbatu masih bisa menghasilkan hingga dua ton, itu sudah termasuk banyak,” ujar Paulus.

Petani-petani sorgum di dusun tersebut tidak menggunakan pupuk. Bibit sorgum cukup ditanam dan petani hanya perlu membersihkan rumput yang mungkin tumbuh di sela-sela kebun sorgum, lanjutnya.

“Kawalelo memang sudah sejak awal tidak pernah pakai pupuk, dan beberapa kali ada bantuan pupuk untuk jagung tapi tidak dipakai. Bantuan yang kami butuhkan air,” ujar Paulus.

Dalam waktu 75 hari sorgum sudah bisa dipanen. Jika ada hujan maka sorgum bisa dipanen dua kali dalam satu kali masa tanam, katanya.

Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung hadir dalam panen raya kedua di Dusun Likotunden. Tahun 2015 dirinya juga hadir untuk memanen sorgum bersama Gubernur NTT Frans Lebu Raya di dusun yang sama.

Sorgum, menurut dia, bukan lah pangan alternatif bagi masyarakat NTT, tetapi sejak awal memang sudah berstatus pangan pokok jauh sebelum beras diperkenalkan hingga ke tanah Flores.

Memori tentang kearifan lokal masyarakat Lamaholot untuk ketersediaan pangannya masih ada. Ia mengatakan sorgum yang memiliki tinggi menjulang hingga tiga meter dulu ditanam pada lahan yang sama dengan padi sebagai pengecoh burung yang hendak memakan bulir padi.

Sorgum yang dianggap sebagai tanaman asli ini juga pernah tersaji di piring-piring masyarakat Lamaholot di Pulau Lembata sebagai makanan pokok, seperti yang masih dapat diingat oleh Ketua DPRD Lembata Ferdinandus Kaodea.

Kini masyarakat di Flores Timur hingga Lembata mulai kembali melihat dan menanam sorgum di ladang-ladang kering mereka.

“Kami (dewan) mendukung sorgum dikembangkan lagi. Kami siap menyuarakan Lembata sebagai kabupaten sorgum,” ujar Fernandus saat ikut melakukan panen raya perdana sorgum di Desa Wuakerong, Kecamatan Nagawutun, Lembata.

Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) M Senang Sembiring mengatakan Indonesia tidak bisa “diberaskan” semua.

Sorgum yang merupakan plasma nutfah lokal terbukti lebih tahan dan dapat beradaptasi dengan iklim di Flores Timur dan Lembata, seharusnya tanaman ini yang menjadi sumber makanan pokok masyarakat di tempat ini.

“Saya harap saat Presiden Joko Widodo datang ke Lembata akhir tahun ini untuk peringatan Hari Nusantara saat itu pula panen raya sorgum juga berlangsung, sehingga Presiden dapat melihat langsung potensi pangan lokal yang dapat membawa Indonesia berdaulat pangan dengan keanekaragaman hayati lokal,” ujar dia.

Kehati, lanjutnya, akan terus mendukung Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka (Yaspensel) yang berada di bawah Keuskupan Larantuka untuk menjalankan program Pelestarian dan Peningkatan Nilai Tambah Sumber Daya Hayati Berbasis Komunitas di NTT dengan mendukung peningkatan kapasitas masyarakat dan fasilitas untuk mengembangkan sorgum lebih baik lagi dan menjadi kebanggaan NTT.