Green Adventure LjOC Ciptagelar 2018

LjOC menggelar ‘Green Adventure Ciptagelar 2018’. seribu bibit pohon aneka jenis dibawa bersama deruman kesangaran jip 4 x 4 

SUARAPETANI.COM. BANTEN. Memang, untuk menuju Ciptagelar diperlukan stamina ekstra jika ingin melihat pesona alamnya yang luar biasa.  Lokasinya yang berada di daerah perbukitan TNGHS membuat perjalanan terasa berat. Terlebih jalan yang masih alami ditambah turunan dan tanjakan yang curam dan licin membuat siapa pun harus ekstra waspada. Untuk menuju tempat ini diperlukan waktu sekitar 7-8 jam perjalanan dari Kota Sukabumi.

Puluhan mobil roda penggaruk tanah tampak menyemut memasuki gerbang Kasepuhan Ciptagelar

Rangkaian konvoi puluhan jip kecil yang tergabung dalam Persaudaraan 4×4 – Little Jip Owner Community (LjOC) mulai beranjak ke titik ‘meet point’. Sebagai komunitas Jip yang peduli lingkungan, LjOC memberi tajuk “Green Adventure LjOC-Ciptagelar 2018”.

Acara dilaksanakan 14 – 16 September 2018. Sekitar seribu bibit pohon aneka jenis (untuk penghijauan) berada di dalam kesangaran kendaraan berkaki (roda) penjelajah tersebut.

“Tujuan kita selain mengenalkan alam serta menjalin keakraban kepada sesama keluarga besar LjOC, juga untuk melakukan penanaman pohon demi kelestarian Bumi Ciptagelar,” tutur Abeng, Leader  Green Adventure LjOC-Ciptagelar 2018. Turut serta dalam event selama dua hari itu Ketua dan Wakil Ketua LjOC, Dona Ramdani dan Budi Asmono.

Abenk Leader Ciptagelar Adventure 2018 memberikan arahan sebelum bergerak menuju tebing curam

“Kita juga akan lakukan kegiatan serupa ke beberapa daerah lain. Karena dunia offroad tidak hanya sebatas prestasi dalam kompetisi 4×4, tapi juga pengabdian masyarakat dan kepedulian pelestarian lingkungan,” ungkap Dona Ramdani.

“LjOC pun siap bergandengan tangan dengan berbagai pihak untuk kegiatan yang saling bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” tambah Budi Asmono.

Ikut berpartisipasi dalam kesempatan tersebut PT. Dupont Indonesia, sebuah perusahaan sarana produksi pertanian, serta kelompok Rimbawan sebagai penyumbang bibit aneka pohon untuk penghijauan.

Teladan Ketahanan Pangan

Memasuki daerah taman nasional, jalan mulai menyempit dan nampak sama sekali belum tersentuh tangan pemerintah. Jalan di tempat ini masih berupa bebatuan dengan jembatan yang terbuat dari kayu seadanya. Soal udara, sepanjang perjalanan akan terasa sejuk karena melewati hutan dengan pohon yang tinggi di sisi kanan dan kiri.

Usai melewati tanjakan terjal berbatu, bukit-bukit serta jurang dalam, maka pusat Kasepuhan Ciptagelar pun terlihat, bak menyapa dengan penuh keramahan; “Selamat datang di wilayah yang asri, potret negeri agraris yang sesungguhnya.”

Inilah sebuah negeri yang makmur dimana masyarakatnya percaya bahwa sendi-sendi kehidupan yang mereka jalani adalah bagian dari siklus padi. Maka ritual Serentaun (pesta panen) pun menjadi sebuah hajatan penting yang digelar setiap tahun.

Bumi Ciptagelar. Sebuah wilayah di puncak Gunung Halimun yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS), Sukabumi Jawa Barat. Di sini tak pernah ada kasus kekurangan pangan, stok padi melimpah dan hukum adat ‘mengharamkan’ jual beli padi.

Huma di atas bukit yang tetap melestarikan hean ternak untuk membajak sawah yang dipanen sekali dalam setahun

Agaknya pantas, bila Ciptagelar disebut potret ideal negeri agraris. Budaya gotong royong dan penerapan teknologi budidaya leluhur tetap lestari sejak ratusan tahun di wilayah ini. Benih padi khas (tersimpan 120 varietas), olah tanah dengan bajak (kerbau), tanpa pestisida dan pupuk kimia, namun nyaris tidak pernah mengalami gagal panen. Pengairan pun tertata rapih, dengan sumber air dari hutan pegunungan yang terjaga.

Lumbung padi yang wajib dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sehingga ketahanan pangan lestari

“Hukum adat melarang keras merusak hutan. Tujuannya tak lain adalah agar sumberdaya alam, termasuk dalam mendukung kegiatan pertanian (padi -red) dapat tetap lestari,” tutur Abah Ugi, Pucuk Adat Kasepuhan Ciptagelar beberapa waktu lalu.

Ugi Sugriana Rakasiwi, begitu nama lengkapnya, adalah pemimpin masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar yang berjumlah lebih dari 30.000 yang tersebar di 568 kampung di seluruh penjuru pegunungan Halimun. (Riz)