Lumbung padi khas Nusantara di Kasepuhan Ciptagelar Banten Kidul Jawa Barat. Bukti jejak warisan sejarah betapa pentingnya menjaga ketersediaan pangan pokok untuk masyarakat.

SUARAPETANI.COM. Bogor. Indonesia sampai saat ini masih saja direpotkan atas pencapaian target swasembada pangan. Padahal strategi swasembada lebih banyak bersifat politik ketimbang ekonomi. Dan itu sudah berlangsung sejak jaman Belanda, bahkan konon Amangkurat I juga melakukan strategi serupa.

Demikian pernyataan Prof Parulian Hutagaol Guru Besar FEM IPB yang didampingi oleh Dr. Dahril dari Pusat Kajian Resolusi Konflik dan Pemberdayaan IPB dengan sejumlah wartawan di Kampus IPB Branangsiang Bogor (17/10).

Sudah waktunya Indonesia mengkoreksi kebijakan swasembada sebagai motor pencapaian keberhasilan pangan nasional. “Indikator swasembada itu kan jumlah produksi domestik yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional. Ini bahaya loh untuk ketahanan pangan nasional di masa depan,” jelas Parulian.

Hendaknya Indonesia bisa meniru Thailand atau Vietnam. Negara tersebut tidak menggunakan strategi swasembada untuk mencukupi kebutuhan pangan nasionalnya. Mereka pacu produksi beras sekaligus membangun komoditas pangan unggulan lainnya, sehingga masyakarat mempunyai pilihan bahan pangan pokok.

Kehadiran perusahaan asing yang ada juga didayagunakan. Kemajuan teknologi yang biasanya dimiliki perusahaan multinasional malah diberdayakan untuk didorong memproduksi komoditas unggulan berdaya saing. “Akhirnya negara mereka mampu mengejar ketertinggalan di kawasan Asia Tenggara bahkan kini eksportir besar ke negara lain, termasuk Indonesia,” ungkapnya.

Indonesia pun seharusnya mampu melakukan hal yang sama. Sejumlah perusahaan benih multinasional agrikultur berbasis sains dan riset telah lama masuk di Indonesia. “Sekarang tinggal pemerintah yang seharusnya mendorong industri yang ada untuk lebih produktif menciptakan benih-benih yang spesifik lokasi tidak melulu benih global untuk ditanam petani. Jika itu dilakukan kita bukan hanya mampu penuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi malah eksportir produk pangan,” paparnya optimis.

Bagaimana dengan industri benih dalam negeri agar jadi tuan di negeri sendiri? kejar suarapetani.com

“Kawal industri benih dalam negeri untuk menjadi kuat sehingga produktif juga menciptakan komoditas pangan yang marketable baik di pasar domestik maupun mancanegara, sehingga hasil produksi yang dihasilkan petani kita sudah sesuai permintaan global,” sambungnya tangkas.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif Suara Petani Institute Tony Setiawan menyatakan sudah sepatutnya kegaduhan masalah pangan nasional segera disudahi. Sebagai negara agraris yang pernah mendapatkan penghargaan dunia tentang pangan di tahun 1984, rasanya tak pantas lagi Indonesia terantuk masalah pangan yang biasa dialami negara-negara miskin, apalagi saat ini sudah menjadi salah satu negara anggota G20.

Mengutip teks pidato Presiden pertama Ir. Soekarno 66 tahun silam saat peletakan batu pertama pembangunan Gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (Sekarang IPB-red). Dengan lantang Ia berkata

“Pemuda-pemudi, akupun sering melayangkan angan-anganku mengenai pertanian padi di tanah Jawa. Bilakah seorang pemuda atau pemudi Indonesia ahli ilmu pertanian mendapatkan satu jenis padi kering – padi kering, bukan padi basah yang droogte resisten, yang produksinya tidak kalah dengan padi basah, yang rasa nasinya tidak kurang lezat dari misalnya pada Bengawan yang kebal segala penyakit, yang dapat memberi panen dua kali setahun?

Ah, kalau jenis padi kering yang demikian itu terdapat, kalau impianku ini terwujud, kalau segala padi bisa kita ganti dengan padi kering yang all-round itu, satu revolusi besar dapat kita jalankan di lapangan penantian padi.

Kita bisa bikin petani-petani kita ”collective minded” kita bisa buang segala pematang-pematang atau galengan-galengan, kita bisa coret sebagian terbesar dari pengeluaran-pengeluaran untuk irigasi yang berpuluh-puluh milyun, kita bisa bekerja dengan tractor-tractor dan mesin-mesin pengetam, kita bisa bekerja ekonomis besar-besaran, kita bisa pergunakan tenaga petani yang berlebih untuk kerajinan tangan atau niverheid, kita bisa lemparkan banyak sekali tanaga kerja ke dalam industrialisasi di daerah-daerah kita yang harus diindustrialisir. Betapa hebatnya akibat Revolusi Pembangunan yang demikian itu.

Pemikiran Bung Karno memang seng ada lawan ..