Serda Catur Susanto Babinsa Talangagung Kepanjeng Malang. "Saya bahagia bisa dilibatkan membantu petani karena keluarga saya juga petani di Nganjuk Jatim," katanya

“Saya menjalankan perintah, tetapi saya menikmati. saya merasakan melalui pendampingan ini tentara semakin dekat dengan rakyat,”

 

SUARAPETANI.COM, MALANG. Demikian Sersan Dua Catur Susanto, Bintara santun yang bertugas di Koramil 0818/05 Kepanjen Kabupaten Malang saat ditanya SuaraPetani.Com tentang tugasnya sebagai Babinsa di Makoramil 0818/05 minggu lalu.

Wilayah tugasnya di Desa Talangagung Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.

“Sebelum TNI masuk ke sawah, wilayah itu nyaris tanpa kelompok tani. Kalaupun ada hanya tinggal papan nama, tanpa ada kegiatan pertanian yang melibatkan anggota kelompok,” ujar Catur memulai.

Makoramil 0818/05 Kepanjen Malang yang saat ini dikomandani oleh Danramil Kapten Inf Yuyud Hadi P..
Makoramil 0818/05 Kepanjen Malang yang saat ini dikomandani oleh Danramil Kapten Inf Yuyud Hadi P.

Setelah atasan perintahkan saya sebagai pendamping di Desa Talangagung, sambungnya, saya langsung berkoordinasi dengan aparat Desa, termasuk Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Mantri Tani hingga Petugas Hama dan Penyakit Tanaman.

Mula-mula saya dekati petaninya. Ajak omong-omong agar saya tahu masalah yang paling mendasar. Ternyata di desa ini kelompok taninya tidak berjalan alias mati suri.

Agar cepat bergerak. Saya langsung koordinasi dengan PPL, Mantri Tani dan Petugas Hama Penyakit agar dapat juga bersama-sama turun ke lapangan sehingga petani kembali bersemangat.

“Alhamdulillah. Sekarang, Desa Talangagung kelompok taninya sudah kembali aktif, yakni Koptan Rukun Tani I dan Rukun Tani II. Bahkan kami sudah berhasil membentuk Gapoktan Makmur Utomo,” jelas Catur puas.

Petani desa di wilayahnya pola penanamannya diatur karena keterbatasan air. Ada petani yang bertanam padi ada juga yang kebagian tanam jagung. Rata-rata dua tanam padi dan satu tanam jagung.

Biasanya varietas padi yang ditanam masih inbrida. Sementara untuk tanam jagung, mereka menjadi petani mitra pebenih untuk perusahaan Syngenta dan Bisi.

Dengan aktifnya Koptan dan terbentuknya Gapoktan, Desa Talangagung sudah mulai mendapatkan bantuan dari pemerintah baik benih, pupuk hingga alsintan. “Sungguh saya merasa bersyukur sekali. Petani Talangagung kembali bergairah. Saya teringat kampung saya di Nganjuk Jatim, dimana bapak saya sendiri adalah petani padi,” aku Catur lagi.

Menjadi tentara adalah panggilan jiwa. Tandasnya. Meski pernah bertugas di medan tempur di Palagan Dili Timtim tahun 2000 dalam Kompi Pemburu Rajawali yang kesohor itu, juga Operasi Terpadu di Aceh bersama Yonif 527/Bhaladibya Yudha Lumajang, Serda Catur tampak rendah hati.

“Melihat senyum petani di setiap pagi, bagi saya adalah kebahagiaan tersendiri. Tentara kini semakin dekat dengan rakyat. Pupuk sudah tidak ada lagi yang tidak kebagian. Panen melimpah. Hama dan penyakit langsung ditangani. Petani kembali guyub dan petugas dari Dinas Pertanian kini juga sama-sama rajin turun ke lapangan bersama Babinsa,” tandasnya.

Saat ditanya apakah keluarga tidak protes karena waktunya habis di lapangan? Dengan sigap, Catur menjawab “Siap. Tidak!”. Itu sudah resiko menjadi istri dan anak prajurit, tukasnya.

“Prinsip saya, kita sudah digaji oleh negara, maka sepatutnya kita bekerja untuk kemakmuran bangsa dan negara,” jawabnya tegas.