Jumpa Pers Peluncuran Benih Jagung Terbaru P36 Bekisar: Tampak dari ki-ka : Yuana K Leksana Manager Portfolio Seed, Benny Sugiharto Managing Director, Devi Kusumaningtyas Asean Government Relations Manager

SUARAPETANI.COM. MAKASSAR. Di tengah Mentan Amran Sulaeman roadshow statement tentang alasan mengapa Kementerian Pertanian merekomendasi importasi kembali jagung 100.000 ton setelah di klaim surplus 4 juta ton bahkan sempat ekspor, Corteva Agriscience luncurkan benih jagung hibrida revolusioner terbarunya : P36 Bekisar.

Bertempat di Gammara Hotel Makassar dalam acara Jumpa Pers Peluncuran P36 Bekisar (7/11), Benny Sugiharto Managing Director PT DuPont Indonesia menyampaikan bahwa Sulawesi Selatan merupakan provinsi ke lima terbesar penghasil jagung di Indonesia.

Untuk memacu produksi di musim tanam basah kali ini, pihaknya telah siapkan 400 – 500 ton benih jagung hibrida tahan bulai P36 yang mampu ditanam rapat.

Benih jagung hibrida yang disiapkan untuk Sulsel adalah varietas P36 Bekisar yang diklaim sangat cocok ditanam petani di provinsi ini,  seperti di Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng hingga Bulukumba.

Bagi pegiat pertanian tanaman jagung Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Bulukumba di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan mesin produksi yang menjadikan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai lumbung jagung nasional terbesar kelima setelah tiga daerah di pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

“Sulsel memiliki potensi besar. Karakter petaninya kritis. P36 Bekisar ini sesuai SK Menteri Pertanian saat pelepasan varietas, memiliki keunggulan selain besar dan panjang, cepat panen dan tahan terhadap penyakit bulai, juga juga bisa ditanam rapat,” sambungnya.

Menurut dia, Corteva telah lama masuk pasar di Sulsel. Kali ini varietas terbaru kami hadir sesuai keinginan petani Sulsel yang ingin tongkolnya besar dan panjang, tahan roboh sehingga bisa ditanam rapat, warna bijinya merah dan tahan bulai.

Dia mencatat, saat ini persentase penggunaan jagung hibrida di Sulsel mencapai 50 sampai 60 persen. Jika dibandingkan dengan jagung lokal lainnya, hasil produksi jagung P36 bekisar bisa melimpah dua kali lipat sekali panen. Apalagi para petani diberikan asuransi penyakit bulai.

Penyakit bulai disebabkan oleh jamur jenis Peronosclerospora maydis. Ancaman jamur tersebut dapat melumpuhkan produksi jagung hingga 50-70% dan menjadi momok bagi petani jagung.

Kehadiran P36 Bekisar ini juga diharapkan dapat membantu Pemerintah untuk penuhi pasar kebutuhan domestik yang menjadi polemik belakangan hari ini, karena varietas ini dapat di panen lebih cepat yakni umur tanaman 90 hari, potensi hasil 13 ton per hektar dengan rendemen 80%  dan tahan bulai. “Bagi kami P36 varietas yang revolusioner,” tandas Benny.

Corteva Agriscience merupakan divisi pertanian DowDuPont, dimana perusahaan ini hadir atas merger kekuatan kolosal dari Pioneer, DuPont Crop Protection dan Dow AgroSciences yang mempunyai budaya riset dan sains selama lebih dari dua abad di dunia agrikultur.

Di Indonesia, Pioneer sendiri sudah memproduksi dan memasarkan benih jagung hibrida dan padi hibrida Pioneer sejak tahun 1988 dan merupakan pemimpin pasar dalam industri benih jagung hibrida di Indonesia.

Pioneer Indonesia telah melepas lebih 35 varietas benih jagung hibrida Pioneer dan 5 varietas benih padi Pioneer. Varietas yang masih diproduksi dan dipasarkan adalah varietas P21 Dahsyat, P27 Gajah, LumiGEN, P32 Singa, P33 Beruang, P35 Banteng, dan P36 Bekisar.

Pioneer juga mengembangkan padi hibrida yang akan menghasilkan hasil panen terbaik bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani Indonesia.