Perubahan iklim adalah salah-satu penyebab maraknya perkembangan jenis ulat yang sangat rakus dan penghancur tanaman jagung ini.

SUARAPETANI.COM. JAKARTA. Kini, para petani jagung di berbagai daerah mungkin agak terganggu tidurnya. Ketentraman mulai terusik. Pasalnya kegiatan mereka dalam berbudidaya dibayangi ancaman resiko gagal total akibat Fall Army Worm (FAW), sejenis ulat grayak, namun sangat ganas. Ulat grayak jenis baru tersebut adalah Spodoptera frugiperda.

Beberapa bulan lalu, dalam sebuah simposium di Botani Square – IPB, Bogor, ulat jenis ini telah dibahas oleh sejumlah pakar perlindungan tanaman dan para pihak terkait dengan pertanian, terutama agribnisnis jagung. FAW, yang dijuluki ‘ulat tentara’ atau ‘ulat amerika’ tersebut telah banyak menimbulkan kerugian di sejumlah negara. 

Disebut ulat amerika, karena dulu – sebelum merambah ke berbagai negara, ulat grayak jenis yang satu ini hanya ditemukan di perkebunan jagung di Amerika. Namun akhir-akhir ini serangan ulat tersebut telah menghancurkan pertanaman jagung di Afrika hingga Asia. Tingkat kerusakan yang ditimbulkannya sangat parah. 

Dalam symposium yang digelar IPB bersama Corteva tersebut, sejumlah pihak telah memberi sinyal ‘lampu kuning’ bagi agribisnis jagung nasional, bahwa suatu ketika ulat amerika akan masuk ke Indonesia.

Sinyal lampu kuning tersebut akhirnya terbukti. Beberapa waktu lalu, areal pertanaman jagung di Pasaman – Sumatera Barat ditemukan berantakan akibat serangan ulat. Petani rugi besar. 

Usut punya usut, berdasarkan pengamatan pakar perlindungan tanaman IPB, Prof. Dr. Dadang MSc, dinyatakan bahwa jenis ulat grayak yang melanda petani jagung di Pasaman tersebut adalah FAW. 

Ulah ulat Asal Amerika ini membuat tanaman jagung petani rusak parah khususnya pada bagian batang dan daun. Dan ditenggarai sudah menyebar dari Aceh, Sumut, Sumbar hingga Tegal.

Sangat Rakus

Lantas ada apa, sehingga banyak pihak bak kebakaran jenggot?

FAW alias ulat amerika, secara umum memang disebut juga ulat grayak. Bedanya ulat grayak jenis ini sangat ganas dalam memakan bagian batang dan daun jagung. Dampak dari serangannya dapat menghancurkan pertanaman berskala luas dalam waktu singkat. 

Parahnya lagi, perkembangan FAW sangat cepat. “Imago-nya punya kemampuan terbang hingga 100 km per hari. Dan akan lebih cepat lagi menyebar bila dibantu oleh angin,” tutur Prof. Dadang, dalam acara Halal Bil Halal Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) di Jakarta beberapa waktu lalu.

Akibat daya jelajahnya yang sangat massive itu, FAW yang awalnya hanya ditemukan di Pasaman, kini mulai merambah ke Sumatera Utara, Lampung dan Banten. “Kabar terakhir dinyatakan FAW sudah ditemukan pula pada pertanaman jagung di daerah Tegal – Jawa Tengah,” jelas Dadang.

Lebih jauh Dadang menjelaskan, bahwa kecepatan reproduksi FAW sangat mengkhawatirkan. Satu betina mampu bertelur 1844 butir per musim. Telur-telur tersebut berkembang menjadi larva yang masuk ke jaringan tanaman jagung, dan memakan tempat tinggalnya tersebut (batang atau daun). 

Memprihatinkan 

Serangan ulat amerika tersebut di beberapa desa (sentra jagung –red), telah menimbulkan sebuah ancaman baru bagi dunia agribisnis nasional. Beberapa pihak mempertanyakan, kenapa dan bagaimana hal tersebut bisa terjadi begitu cepat? Apa saja peran pemerintah terkait selama ini?

Beberapa pihak yang dipertanyakan perannya tersebut adalah Badan Karantina Kementerian Pertanian, serta Direktorat Perlindungan Tanaman, baik tanaman pangan maupun hortikultura. Disamping itu kegiatan importasi benih pun dicurigai bisa saja menjadi biang kerok musibah ketahanan pangan nasional, terutama jagung. 

Menyikapi keprihatinan itu, Dr. Ir. Ahmad Dimyati, Ketua Dewan Pakar Asbenindo, memberikan tanggapan.  Masih dalam acara Halal Bil Halal Asbenindo, mantan Dirjen Hortikultura itu menyampaikan keprihatinannya. “Meski belum epidemic, tapi serangan ulat ini sudah menjadi sebuah ancaman,” tegas Dimyati.

Dikatakannya, pihak yang berkepentingan, termasuk karantina dan para pihak terkait lainnya harus terus bergulat dalam menghadapi kenyataan serangan FAW tersebut. 

Akibat Perubahan Iklim

Masifnya serangan FAW, baik secara internasional maupun nasional, terutama pada pertanaman jagung, menurut Prof. Dadang, adalah salah-satu dampak dari perubahan iklim. Dia tidak menjelaskan secara rinci perihal kaitan perubahan iklim terhadap serangan FAW, namun dikatakan bahwa ulat tentara itu sangat tertarik pada cahaya. 

Yang perlu diwaspadai lagi, FAW tidak hanya memangsa pertanaman jagung, namun bisa juga merambah ke komoditas lainnya, terutama tanaman hortikultura.  Beberapa jenis tanaman sayuran dapat menjadi inang FAW, seperti kubis, bit, bawang, timun, papaya, tomat dan sebagainya.