UD Wira Tani di Desa Karanganom Klaten milik Rohmad

Karanganom, Klaten. “Awalnya nekat. Itu kalimat yang tepat,” Jelas Rohmad Soleh (38) membuka pembicaraan di depan kios pertaniannya : Wira Tani.

Waktu itu, saya sudah ada kepikiran untuk berumah tangga. Sementara kerja di bagian marketing perusahaan benih Tanindo-Bisi selalu berpindah-pindah. Terakhir saya di tempatkan di wilayah Solo Jateng.

Meski saat itu ia sudah memiliki gaji yang cukup, namun karena posisinya sebagai marketing yang lebih banyak dilapangan dan seringkali berpindah-pindah, maka saya putuskan untuk resign dari perusahaan yang memberikan banyak ilmu pertanian dan pemasaran untuknya.

“Saya resign tahun 2005. Modalnya uang kerohiman dari perusahaan yang nilainya saat itu sekitar 10 juta,” pungkasnya.

"Insya Allah saya ingin bisa menjadi dealer dan tak bergantung dengan pihak bank agar barokah," jelas Rochmad tegas
“Saya resign tahun 2005. Modal nekat agar keluarganya besok gak sering ditinggal-tinggal” jelas Rochmad

Kios saya namakan Wira Tani. Posisinya persis dipinggir jalan raya Karanganom-Jatinom. “Tanah untuk kios ini pemberian dari orang tua saya. Pas lokasinya dipinggir jalan besar. Setelah mengantongi ijin SIUP dan TDP, saya langsung belanjakan uang yang cuma sepuluh juta itu untuk membeli obat-obatan (pestisida tanaman) yang paling sering dibutuhkan petani,” sambungnya

“Saya belanja pestisida langsung kepada teman, agar dapat rabat lumayan besar. Sekali belanja sekitar 10 – 20 boks. Setelah habis, langsung belanja lagi. Dan itu semua dibayar dengan cash,” akunya.

Tahun 2007, kios saya mulai berkembang. Pihak bank juga sudah mulai menawarkan kredit. Tanpa pikir panjang saya ambil kredit dari bank BRI cabang pembantu Karanganom sebesar Rp. 20 juta. Tak lama berselang, dapat tawaran susulan. Pagi kredit naik menjadi Rp. 40 juta. Dan kini di tahun 2016 sudah diatas Rp. 100 juta, tuturnya.

Sejalan dengan berkembangnya bisnis, saya sempat salah perhitungan finansial. Hasil keuntungan dagang saya belikan tanah, maksudnya untuk tabungan yang likuid, ternyata malah menjadi bumerang yang berakibat cashflow saya terganggu.

Modal dasarnya ulet dan dipercaya

Sebagai orang yang baru menerjuni usaha kios, tentu tidaklah mudah. “Saya harus sambangi (mengunjungi-red) petani satu per satu. Saya tanya keluhannya sekaligus kebutuhannya. Setelah dekat dengan mereka, baru saya mulai berani tawarkan pestisida yang saya punya,” beber Rochmad.

Modal utama kios pertanian itu cuma ulet dan dipercaya petani. Ulet diperlukan agar kita dapat sebanyak-banyaknya informasi tentang konsumen, sehingga kita bisa ukur kebutuhannya. Sementara yang tak kalah penting, kita juga harus menjadi mitra terpercaya bagi mereka. Tidak semata-mata jualan. Itu saja,” jawabnya lirih.

Dengan model bisnis seperti itu saja. Dari modal Rp. 10 juta, saya berhasil mendapatkan omset Rp. 15 juta. Tahun ketiga sudah masuk omset Rp. 40-50 juta per bulan. Dan sekarang sudah sampai Rp. 80 – Rp. 100 juta per bulan.

“Saat ini, saya sudah dipercaya 20-an kelompok tani. Satu kelompok tani bisa beranggotakan 50 – 60 petani. Meski di desa ini (Karanganom-red) faktor kelompok tani tidak begitu berpengaruh, namun kedekatan kita kepada mereka akan berdampak hubungan yang baik antara kios dengan kelompok tani mereka.

Wira Tani kini sudah menjadi penyalur pupuk bersubsidi untuk tiga desa. “Ini jelas saya syukuri” katanya.

Mulanya, PPL datang ke kios menawarkan ke saya untuk bersedia menjadi penyalur pupuk bersubsidi. Saya disuruh ajukan sebagai penyalur ke kantor dinas pertanian.

Aturannya banyak dan detil dan terjabar dalam SPJB (surat Perjanjian Jual Beli), termasuk pelaporan, penjualan dan penyaluran.

Melayani dengan hati dan berbagi ilmu untuk solusi tani agar pelanggan senang untuk kembali ke tokonya
Melayani dengan hati dan berbagi ilmu untuk solusi tani agar pelanggan senang untuk kembali ke tokonya

Setelah ditetapkan sebagai penyalur pupuk bersubsidi, toko saya tambah laris karena banyak petani yang datang untuk ambil barang. “Insya Allah ke depan kami ingin sekali bisa setingkat dealer namun dengan pendanaan mandiri. Maksudnya modal sendiri. “Biar barokah mas karena bebas dari riba,” katanya merendah sambil menutup pembicaraan